Terorisme dalam Pandangan Islam

Penerjemahan jihad menjadi “perang suci” ini bila dikombinasikan dengan pandangan Barat tentang Islam sebagai “agama pedang”, jelas telah mereduksi makna substansial dan spiritual dari jihad, serta mengubah konotasinya. Apalagi jika terminologi jihad yang semacam itu dihadapkan pada nilai-nilai HAM, tentu saja, akan kian menguatkan asumsi Barat bahwa Islam identik dengan “ketajaman pedang”.

Makna dan Kategori Jihad Dalam Islam

Menurut Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dikutip oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat)[4]. Dari kategori ini, jihad bukanlah sekadar perang, bahkan lebih dari itu, jihad justru merupakan sebuah konsekuensi keimanan atau religiositas.

Karena itu, jihad tidak bisa dilepaskan dari sejumlah aturan etika atau moralitas. Kebrutalan, pelecehan kemanusiaan, ancaman terhadap kehidupan, dan berbagai pelanggaran HAM lainnya adalah hal-hal yang secara esensial bertentangan dengan term jihad. Sungguh sangat disayangkan jika kemudian sebagian orang menganggap jihad semata-mata sebagai bentuk ekspresi kemarahan yang tak terkendali yang berakhir pada use of force untuk menghantam musuh (non-muslim) secara membabi-buta.

Dari sinilah, tampaknya, makna jihad yang selama ini cenderung pejoratif dan distortif itu mesti didekonstruksi. Bahwa ideologi jihad bukanlah dendam kesumat dan pelampiasan kebencian, melainkan upaya sosialisasi dan internalisasi kebajikan (amar ma’ruf) serta pencegahan atau penghapusan terhadap kemungkaran (nahi munkar). Jihad adalah upaya yang sungguh-sungguh untuk menegakkan harkat dan martabat kemanusiaan, melepaskannya dari setiap bentuk ketidakadilan, kezaliman, dan penindasan, serta mendorongnya ke posisi di mana ia seharusnya berada.

Pada dasarnya Islam tidak mengajarkan dan tidak menganjurkan  umatnya untuk berbuat kekerasan terhadap agama lain atau orang lain. Karena agama Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah mengajarkan kaumnya untuk menjadi teroris.

 Kesimpulan

Sebenarnya Aksi terorisme yang mengatasnamakan agama Islam merupakan suatu pelecehan terhadap agama itu sendiri. Karena tidak ada agama mana pun yang mengajarkan kekerasan. Jika kita logika kan bahwa tindakan terorisme bisa dikatakan sebagai kepentingan pribadi Jaringan terorisme tersebut. Kemudian agar mendapatkan dukungan dari masyarakat lainnya maka Jaringan tersebut menggunakan corak atau Islam sebagai cover dari jaringan tersebut.

Pada dasarnya lingkungan umat Islam yakin bahwa ajaran Islam sudah lengkap, sempurna dan mencakup segala macam persoalan. Secara ekstrem pemahaman kaum fundamentalis menyatakan bahwa istilah bagi umat Islam yang tidak sejalan dengan pemikiran untuk menegakkan syariat Islam melalui berdirinya satu kekhalifahan Islam di dunia ini adalah musyrik dan fasik.

Mereka dianggap mengakui sesuatu otoritas selain otoritas-Nya, yang berarti mempersekutukan Allah. Karena itu, Demokrasi sebagai suatu sistem politik, tidak sesuai bahkan bertentangan dengan yang difahami oleh kaum fundamentalis Islam. Sehingga seringkali mereka melakukan perlawanan terhadap sistem demokrasi dengan menggunakan aksi terorisme.

[1] A.M. Hendropriyono. Terorisme,Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. (PT Kompas Media Nusantara: Jakarta, 2009) Halaman vii

[2] Ahmad Syafii Maarif. Masa Depan Islam Di Indonesia.(Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah: Yogyakarta, 2009) h.  8

[3]  dalam arti selalu diterjemahkan dan diaktualisasi sebagai use of force against non-muslim.

[4] www.tempointeraktif.com Selasa, 21 Juli 2009   diakses pada jum’at, 29 April 2011 pukul 14:58

Pages ( 2 of 2 ): « HALAMAN SEBELUMNYA1 2

Recent Posts

Leave a Comment