Sejarah Partai Politik (Parpol)

Sejarah partai politik merupakan tema yang menarik untuk dibahas, karena kegiatan politik tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Dalam kehidupan berpolitik, partai politik merupakan sarana bagi warga Negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam proses pengelolaan Negara. Dewasa ini, partai politik sudah sangat akrab di lingkungan kita. Mengingat bahwa kesadaran masyarakat untuk mengambil peran dan berpartisipasi dalam setiap agenda politik, terlebih ketika Pemilihan umum (Pemilu).

Sejarah partai politik

Ilustrasi (sumber foto: funknbeans.com)

Semakin maraknya kehadiran partai politik di tengah-tengah kita, oleh beberapa pihak memang dikatakan sebagai meningkatnya kesadaran partisipasi masyarakat dalam berperan lebih di setiap agenda politik. Namun, di sisi lain, hal ini menjadi ironi tersendiri karena marak pula kepentingan yang di obral untuk menjadi pemenang kursi kuasa, baik level legislatif atau eksekutif.

Partai politik memang merupakan organisasi yang dapat dikatakan jauh lebih muda dibanding Negara. Pasalnya, studi mengenai partai politik baru dimulai pada abad ke-20. Walaupun arah dan fokus penelitian tentang partai politik lambat. Namun dalam struktur dunia modern sekarang ini, pembahasan tentang partai politik menjadi sebuah subjek pembahasan yang banyak dibahas, terlebih dalam momen-momen politik tertentu. Itulah mengapa sejarah perkembangan partai politik dari masa ke masa juga menjadi penting agar kita tahu bahwa ada organisasi yang inherent dalam kehidupan politik selain Negara, yakni partai politik. (Silakan Baca: Pengertian Partai Politik)

Sejarah Perkembangan Partai Politik

Partai politik pertama-tama lahir di Negara-negara Eropa Barat. Seiring dengan berkembangnya diskursus bahwa rakyat merupakan factor yang perlu diperhitungkan serta diikutsertakan dalam proses politik, maka partai politik lahir dan berkembang secara spontan sebagai penghubung antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di pihak lain.(Baca juga: Sejarah Demokrasi di Indonesia)

Pada awal perkembangannya, pada akhir dekade 18-an di negara-negara Barat seperti Inggris dan Prancis, kegiatan politik dipusatkan pada kelompok-kelompok politik di dalam parlemen. Kegiatan ini mulanya bersifat elitis dan aristokratis, mempertahankan kepentingan kaum bangsawan terhadap tuntutan-tuntutan raja. (Wajib Dibaca: Sejarah Partai Politik di Indonesia)

Pada dekade 19-an lahirlah partai politik yang dibentuk untuk menggalang dukungan secara politik di parlemen. Hal ini muncul karena kesadaran politik yang dirasa perlu untuk memperoleh dukungan dari pelbagai golongan masyarakat, kelompok-kelompok politik di parlemen. Partai semacam ini dalam praktiknya hanya mengutamakan kemenangan dalam pemilihan umum. Partai ini juga mengutamakan kekuatan berdasarkan keunggulan jumlah anggota, maka dari itu ia sering dinamakan partai massa.

 Partai ini biasanya terdiri dari berbagai aliran politik yang sepakat untuk bernaung di bawahnya dalam memperjuangkan program tertentu. Hal ini menjadi terlalu luas dan agak kabur karena harus memperjuangkan terlalu banyak kepentingan yang berbeda dari setiap aliran politik. Contohnya Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat. (Baca juga: Pengertian Politik)

Dalam perkembangannya, di Barat timbul pula partai yang lahir diluar parlemen. Partai-partai ini kebanyakan berlandaskan pada suatu asa atau ideologi atau Weltanschauung tertentu seperti Sosialisme, Fasisme, Komunisme, Kristen Demokrat, dan sebagainya.

Selanjutnya, pada masa menjelang Perang Dunia I telah timbul klasifikasi partai berdasarkan ideologi dan ekonomi yaitu parta “Kiri” dan partai “Kanan”. Kemudian muncul pula konsep pertentangan politik, “Kiri” versus “Kanan”.

Pembagian “Kiri” versus “Kanan” berasal dari Revolusi Prancis waktu parlemen mengadakan sidang pada tahun 1879. Para pendukung raja dan struktur tradisional duduk di sebelah kanan panggung ketua, sedangkan mereka yang ingin perubahan dan reformasi duduk di sebelah kiri. Jika dewasa ini pengertian “Kiri”/”Kanan” digambar dalam suatu spektrum linier, maka terdapat di satu ujung sikap “extrem Kiri” (yaitu campur tangan negara  dalam kehidupan sosial dan ekonomi secara total), dan ujung yang lain sikap “extrem kanan” (pasar bebas secara total).

Perbedaan Ideologi “Kiri” dan “Kanan”

“KIRI” “KANAN”
Perubahan kemajuanKesetaraan (equality) untuk lapisan bawahCampur tangan negara (dalam kehidupan sosial/ekonomi) 

Hak

Status quo, konservatifPrivilege (untuk lapisan atas)Pasar Bebas 

 

Kewajiban

Sumber bacaan / Referensi:
1. Budiardjo, Miriam, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama
2. Budiarjo,Mariam, 1998, “Partisipasi dan Partai Politik”, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_politik_di_Indonesia diakses pada 19 April 2014, 09:22

Silakan Kunjungi Materi Politik Yang Lain, Klik Disini.

Related Posts

Leave a Comment