Peran OKI dalam Upaya Perdamaian Palestina

Perdamaian di Timur Tengah tidak kunjung surut semenjak Israel berada di bumi Timur Tengah, bertepatan di satu wilayah dengan Palestina. Konflik Israel-Palestina merupakan konflik berkepanjangan yang menimbulkan keresahan bagi dunia Arab akan adanya konflik tersebut. karena, walau bagaimanapun, konflik tersebut merupakan konflik yang akan mengancam stabilitas Timur Tengah apabila tidak dihentikan. Berikut Teoripolitik.com akan mencoba membahas secara singkat tentang peran OKI dalam upaya perdamaian di Palestina.

Peran oki dalam konflik palestina

Roket Israel Menghancurkan Wilayah Jalur Gaza, Palestina (Foto:Tempo.co)

Oleh karena itu, dalam upaya menyikapi konflik tersebut, maka, dibentuklah organisasi OKI yang mewadahi negara-negara Islam didalamnya. Banyak upaya yang telah OKI lakukan dalam mengupayakan perdamaian dalam konflik kedua negara tersebut dan menjunjung kemerdekaan bagi Palestina. Namun dalam waktu yang bersamaan, banyak juga problematika yang dihadapi organisasi Islam ini dalam pencapaian salah satu tujuannya yaitu untuk menjunjung perdamaian internasional, khususnya perdamaian.

Organisasi Konfrensi Islam dan Tujuan Didirikannya

OKI (Organisasi Konfrensi Islam) merupakan organisasi yang dibentuk sebagai reaksi dari peristiwa pembakaran masjid Al-Aqsa yang terletak di kota Al-Quds atau Yerusalem pada tanggal 21 Agustus 1961. Kejadian tersebut menimbulkan reaksi keras dari kalangan umat Islam. Makanya, Setelah kejadian tersebut, munculah suatu perasaan di kalangan negara-negara Islam untuk menggalang kekuatan umat Islam dalam rangka pembebasan Yerusalem sebagai tempat suci ketiga bagi umat Islam.[1]

Konflik Palestina-Israel merupakan salah satu tujuan didirikannya organisasi ini. Makanya, setelah dibentuknya OKI sebagai wadah bagi kekuatan Islam, tidaklah sedikit peran yang telah dilakukan OKI dalam mengupayakan perdamaian dan memerdekakan bagi Palestina dari tangan rezim Israel. (Selengkapnya baca: Organisasi Konferensi Islam)

Terbentuknya Deklarasi Aman

Peran OKI dalam kemerdekaan palestina terlihat dari penyelenggaraan KTT Aman yang menghasilkan deklarasi Aman sebagai rbagian dari solidaritas perjuangan rakyat Palestina. Kemudian dalam melengkapi “deklarasi Aman”, Mesir dan Yordania sebagai bagian dari anggota OKI mengajukan proposal perdamaian yang antara lain mencakupi seruan dihentikannya kekerasan, penarikan mundur pasukan Israel di wilayah Palestina, pencairan dana Palestina di bank-bank Israel, ditaatinya resolusi PBB nomor 242 dan 338[2], diberhentikannya pembangunan pemukiman Yahudi  dan pembentukan sebuah komite yang beranggotakan AS, Rusia, Uni Eropa, Mesir dan Yordania yang bertujuan untuk membantu Israel dan Palestina mencapai kesepakatan perdamaian.[3]

KTT OKI dan Tujuannya

Seiring berlanjutnya kekejaman Israel atas bumi Palestina, OKI sebagai organisasi Islam selami merespon terhadap kekejaman Israel. Hampir dari setiap eskalasi pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap Palestina, OKI selalu meresponnya yakni dengan mengadakan pertemuan puncak (KTT). Hal itu terlihat dari KTT Doha dan Qatar pada 12-13 November 2000 dimana kedua KTT ini dilakukan untuk merespon eskalasi kekejaman Israel yang semula dari adanya provokasi yang dilakukan pemimpin garis keras Israel, Ariel Sharon, terhadap warga muslim Palestina di Yerusalem.[4]

Dalam KTT OKI, mereka kembali menegaskan solidaritas terhadap perjuangan bangsa Palestina, antara lain, dalam bentuk pemutusan hubungan (politik maupun ekonomi) dengan Israel. Satu per satu negara-negara Arab yang sudah menjalin hubungan dengan Israel pun mulai melaksanakan hasil KTT Kairo maupun Doha. Mereka diantaranya adalah Tunisia, Maroko dan Qatar, Sementara Mesir dan Yordania, karena belum secara resmi memutuskan hubungan diplomatiknya.

Namun, keduanya sudah memanggil pulang para duta besar mereka di Israel.[5] Namun, berlanjutnya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Israel terhadap warga sipil Palestina, telah menyebabkan keserempakan lagi dari beberapa anggota OKI seperti Arab Saudi, Sudah, Suriah untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara Lybia, Yaman dan irak mengambil jalan berbeda dari anggota yang lain yaitu dengan menyerukan Jihad atas Israel.[6]

OKI turut memainkan peran yang berarti bagi perdamaian Palestina, selain itu OKI juga berusaha dengan keras untuk menggalang dukungannya di dunia Internasional atas kemerdekaan Palestina. Berbagai langkah telah OKI lakukan untuk merespon segala ketidakadilan yang ditimbulkan oleh Israel terhadap Palestina. Oleh karena itu, selain Palestina, OKI juga menyadari bahwa tidak ada lagi jalan untuk menemukan perdamaian bagi Palestina. Selain, Palestina harus menjadi negara merdeka yang berdaulat.

Pada Juli 2011, Organisasi konferensi Islam (OKI) mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar mengakui status kedaulatan Palestina.[7] Lebih lanjut lagi dalam forum Internasional, OKI telah memberikan dukungan bagi berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Realisasi dari dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk dukungan diplomatik, yaitu pengakuan terhadap Dewan Nasional Palestina (Palestina Council) untuk memplokamirkan negara Palestina pada tanggal 15 November 1988.[8]

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh OKI adalah kunjungan dan pertemuan bilateral kesejumlah negara-negara dan masyarakat internasional untuk menggalang dukungan atas pengakuan negara Palestina yang dilakukan pada tahun 2011. Dimana ketika itu, Ihsanoglu sebagai sekertaris jenderal OKI beserta dengan kepala delegasi anggota OKI seperti Maroko, Siera Leone, Suriname, Somalia dan Kirgistan yang melakukan pertemuan bilateral tersebut.[9]

Dalam sidang ke-38 dewan menteri luar negeri Organisasi Konferensi Islam yang berganti nama menjadi Organisasi Kerjasama Islam juga menyepakati dukungan pengakuan negara Palestina  dengan wilayah  perbatasan tahun 1967 dan Yerusalem sebagai ibu kota. Dukungan tersebut akan dibawa dalam sidang majelis umum PBB pada September 2011.

Menurut Ihsanoglu sebagai sekertaris jenderal OKI menyatakan bahwa terdapat 3 pasal kesepakatan yang menegaskan posisi OKI dalam memberikan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina. Hal ini termasuk juga kecaman terhadap Israel yang terus melakukan kekerasan dan menduduki wilayah Palestina.[10] Selain itu, OKI juga sepakat untuk menekan Israel mengangkat pengepungan yang melumpuhkan gaza. Resolusi lain yang dibuat adalah untuk mengadakan sidang umum PBB dengan judul  “United For Peace” dan juga untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan sangsi terhadap Israel.[11]

 

Kesimpulan

Dilihat dari usaha-usaha yang telah OKI lakukan untuk mewujudkan perdamaian di Palestina dengan realita baru-baru ini membuktikan bahwa sebenarnya masih terdapat solidaritas di negara-negara muslim bagi Palestina. Walaupun usaha-usahanya tersebut masih dinilai tidak terlalu berpengaruh bagi kondisi yang ada di Palestina. Karena, sampai sekarangpun Palestina masih mengalami gangguan dari Israel. Hal ini membuktikan bahwa perdamaian masih belum bisa terwujud di Palestina. Tapi setidaknya dengan usaha-usaha OKI, sampai sekarang dunia internasional masih memberikan perhatiannya pada kasus Palestina ini.

Menurut Imam Khomeini kegagalan dalam membebaskan Palestina dari tangan zionis Israel adalah dikarenakan kegagalan pendekatan nasionalisme Arab atau pan-Arabisme tidak dijalankan berdasarkan agama Islam. pembebasan Palestina hanya akan berhasil jika diperjuangkan atas dasar persatuan seluruh umat dan negara islam.[12] Dilihat dari ucapan beliau dapat disimpulkan bahwa sebenarnya ada harapan untuk membawa kedamaian di bumi Palestina. Namun tantangan terbesarnya dalah menyatukan umat dan negara Islam sendiri. Karena, tanpa adanya persatuan diantara umat dan negara Islam, perdamaian itu masih sulit untuk ditegakan di Palestina. Walaupun sekarang Palestina sudah resmi menjadi negara anggota tetap di UNESCO, namun serangan dari Israel masih terjadi sampai sekarang di wilayah bagian Palestina yaitu Yerusalem.

Pembangunan pemukiman yang dilakukan Israel merupakan suatu ancaman bagi Mahmod Abbas. Oleh sebab itu, Abbas menegaskan bahwa pembangunan pemukiman Israel tersebut akan semakin menghancurkan proses perdamaian.[13] Oleh sebab itu, hal ini menjadi tantangan bagi OKI sendiri untuk lebih menggalang solidaritas dalam berupaya untuk mewujudkan perdamaian di Palestina. Terlebih lagi tantangan bagi OKI selain dari penanganan proses perdamaian Palestina adalah kepakuman sejumlah negara-negara anggota OKI karena terkait masalah “Arab Spring”[14] yang melanda timur tengah baru-baru ini.

Sehingga bagi sebagian negara-negara anggota OKI, pengutamaan masalah dalam negerinya merupakan pioritas utama yang  harus diselesaikan. Hal inilah yang menyebabkan sepak terjang OKI dalam mewujudkan perdamaian Palestina menjadi terhambat. Makanya, ketika negara-negara OKI menggalang dukungan bagi Palestina di tahun 2011 pada masyarakat internasional dengan melakukan pertemuan bilateral, hanya terlihat beberapa negara OKI seperti Maroko, Siera Leone, Somalia, Suriname dan Kirgistan sebagai delegasi OKI.

Padahal negara-negara tersebut kurang cukup memiliki power dibandingkan dengan negara-negara anggota OKI lainnya seperti Arab, Iran atau Mesir. Negara Islam yang dinilai memiliki bargaining position di tingkat regional maupun internasional seperti Iranpun tidak bisa berbuat banyak di OKI. Karena, terkait masalah nuklir yang di permasalahkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. (Deden Kusnadi)

Referensi dan Catatan Kaki:

[1] Aiyub Mohsin, Organisasi dan Administrasi Internasional, (Jakarta: Diktat, 2009),h.60.

[2] Resolusi PBB nomor 242: Penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah yang diduduki pada konflik 1967. Dan penghapusan klaim-klaim wilayah oleh kedua belah pihak (Israel dan Palestina)dalam masa konflik, serta menghormati  hak keberadaan setiap negara di kawasan tersebut dengan mengakui batas wilayah yang telah disepakati bersama.

Resolusi PBB nomor 338: penyeruan gencatan senjata pada perang Yonkipur (konflik koalisi Arab dan Israel) sesuai dengan yang diusulkan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet. (Diakses pada 6 Desember 2011 dari http://forum.detik.com/merge-fakta-dan-sejarah-konflik-arab-israel-t194090p3.html)

[3] Riza Sihbudi, Menyandra Timur Tengah, (Jakarta: PT Mizan, 2007),h.227.

[4] Ibid.331

[5] Ibid.330.

[6] Ibid.369.

[7] “OKI Desak PBB Akui Kedaulatan Palestina”, Diakses pada 10 Desember 2011 dari http://www.suaramedia.com/berita-dunia/timur-tengah/30989-oki-desak-pemeriksaan-internasional-atas-senjata-israel.html

[8] “Organisasi Konfrensi Islam”, Diakses pada 10 Oktober 2011 dari http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=15&l=id

[9] Imam Prihadiyoko, “OKI Keluarkan Resolusi Pengakuan Palestina”, diakses pada 10 Desember 2011 dari http://internasional.kompas.com/read/2011/07/01/02481060/OKI.Keluarkan.Resolusi.Pengakuan.Palestina

[10] Ibid.

[11] “Anggota OKI Diminta Mereview Hubungan dengan Israel”, diakses pada 10 Desember 2011 dari http://www.knrp.or.id/berita/aktual/anggota-oki-diminta-mereview-hubungan-dengan-israel.htm

[12] Reza Sihbudi, “Palestina Dalam Pandangan Imam Khomeini”, diakses pada 11 Desember 2011 dari http://forumm.wgaul.com/showthread.php?t=30941

[13] “Israel Percepat Pembangunan Pemukiman Yahudi”, diakses pada 13 Desember 2011 dari http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/11/111101_jewishsettlement.shtml

[14] Arab Spring: proses revolusi pemerintahan yang  terjadi di dunia Arab. (Akbar S Ahmed, “Arab Spring-Chief Consequence?”, diakses pada 15 Desember 2011 dari http://globalbrief.ca/blog/the-definition/what-is-the-principal-near-term-consequence-of-the-arab-spring/4360) Melanda pada negara-negara seperti Tunisia, Bahrain, Mesir, Libya, Yaman, Suriah. Namun pergolakan politik ditimur tengah juga telah melanda di negara-negaradalam sekalapergolakan politik  kecil  seperti Al-jazair, Yordania, Libanon, Jordan, Oman, Sudan, Arab Saudi, Irak, Iran, Djibouti dan Sahara Barat. Karena di negara-negara tersebut telah terjadi aksi demonstran dan protes dari sebian warga negaranya sehingga menyebabkan pengunduran presidennya di sebagian negara tersebut terkait protes yang dilakukan. (“Map Of The Arab Spring Protests”, diakses pada 13 Desember 2011 dari http://tripline.net/trip/Map_of_the_Arab_Spring_Protests-2173004375451003A9ECA90105EA623D)

Related Posts

Leave a Comment