Pengertian Migrasi, Pengungsi, dan Imigran Gelap

Pengertian Migrasi

Pengertian dan definisi migrasi penduduk merupakan suatu aktivitas perubahan tempat tinggal, baik permanen maupun semi permanen yang dapat mencakup pendatang, imigran pekerja temporer, pekerja tamu, mahasiswa, maupun imigran ilegal, yang menyeberangi suatu batas wilayah Negara. Dalam pengertian ini tidak memasukkan kelompok wisatawan dan komunitas diplomatik.[1]

pengertian migrasi

ilustrasi imigran gelap (bbc.om)

Jadi, migrasi merupakan nama dari sebuah proses perpindahan penduduk. Dalam hal ini karena yang dibicarakan adalah ruang lingkup internasional, maka perpindahan penduduk yang dimaksud disini adalah perpindahan penduduk dari suatu Negara ke Negara lain. Sedangkan Imigran gelap dan pengungsi merupakan subjek yang melakukan migrasi tersebut.

Pengertian Imigran Gelap

Imigran gelap adalah proses migrasi yang terjadi diluar prosedur dan aturan Negara yang ada atau juga perpindahan manusia lewat batas Negara yang menyalahi aturan imigrasi yang berlaku. Ada empat situasi orang tersebut disebut imigran gelap: 1. Imigran yang masuk secara klandestin (sembunyi), dengan dokumen palsu. 2. Menetap lebih dari waktu yang diizinkan. 3. Korban jaringan people smuggling. 4. Sengaja melecehkan sistem suaka internasional.[2]

jadi dapat disimpulkan bahwa imigran gelap merupakan orang yang berpindah dari suatu Negara ke Negara lain dan melewati lintas batas Negara dengan tidak memiliki dokumen resmi yang disaratkan oleh Negara asal ataupun Negara tujuan, ataupun warga Negara lain yang menetap di suatu Negara melebihi waktu izin tinggal.

Pengertian Pengungsi

Pengertian pengungsi bisa merujuk ke konvensi Jenewa tahun 1951 atau yang sering disebut sebagai anggaran dasar pembentukan kantor UNHCR, mendefinisikan pengungsi sebagai “orang yang pergi keluar dari negara dimana ia memiliki kewarganegaraan dikarenakan adanya rasa takut yang beralasan akan adanya penganiayaan yang beradasarkan atas ras, agama, kebangsaan, keanggotaan pada kelompok sosial tertentu atau pandangan politik sehingga orang tersebut tidak dapat atau karena rasa ketakutannya itu tidak bersedia menerima perlindungan dari negaranya”. Instrumen Hukum Regional seperti Konvensi OAU (Organization of African Unity) tahun 1969 dan Deklarasi Kartagena tahun 1984 di Amerika Latin memperluas mandat tersebut yaitu termasuk orang-orang yang lari dari negaranya karena perang atau konflik sipil.[3]

Para pengungsi bergerak dan bermigrasi dari tanah airnya ke tempat yang lebih menjamin keamanan diri, nyawa, kekayaan, harapan, dan masa depannya. Para pengungsi selalu mengharapkan hukum kemanusiaan yang mendasar, merantau dan mencari masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri serta anak-anak, cucu-cucu, dan keturunan selanjutnya.

Motivasi pengungsi pergi ke Negara lain adalah dengan harapan untuk meminta perlindungan, minta izin untuk tinggal secara permanen, sebagian lagi pergi untuk meminta penampungan sementara sampai diperolehnya kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, atau kembali ke Negara asal mereka.[4] Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa pengungsi merupakan orang-orang yang meninggalkan Negara asalnya yang dirasa sudah tidak aman dan kondusif lagi dan mencari masa depan dan kehidupan yang lebih baik dinegara lain.

Penyebab Adanya Pengungsi, Imigran Gelap, Dan Juga Terjadinya Migrasi

Dalam pemikiran logika secara normal, tidak masuk akal apabila seseorang melakukan migrasi dari satu Negara ke Negara lain apabila di Negara asalnya dia mendapat kehidupan yang makmur, hak-hak mereka terlindungi, serta keamanan mereka terjamin. Dari pemikiran sederhana ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa orang-orang yang melakukan aktifitas migrasi tentunya memiliki sebab serta alasan yang sangat kuat sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan Negara asal mereka.

Pengungsi seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan di atas adalah orang yang berpindah dari suatu Negara ke Negara lain karena di negara asalnya mereka merasa terancam. Penyebab terjadinya banyak pengungsi ini karena konflik yang terjadi di suatu Negara. Konflik itu bisa konflik internal di Negara tersebut, ataupun konflik yang melibatkan pihak asing, seperti yang terjadi di afganistan dan irak. Konflik tersebut memicu para penduduk untuk mengamankan diri ke Negara yang mereka anggap aman, maka terjadilah arus pengungsi. Semakin konflik tersebut besar, maka arus pengungsi pun semakin besar.

Seperti konflik yang baru-baru ini terjadi. Ratusan ribu penduduk Libya berusaha untuk mengamankan diri mereka dengan cara mengungsi ke Negara-negara yang berbatasan langsung. Tapi usaha tidak semudah yang dibayangkan. Negara tujuan juga harus memikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari penerimaan para pengungsi ini. salah satu Negara yang menampung para pengungsi Libya adalah Tunisia. Tunisia menampung kurang lebih 115 ribu pengungsi Libya, dan dia menghimbau kepada Negara-negara yang berbatasan langsung dengan Libya agar dapat langsung membantu untuk menampung para pengungsi tersebut

Penyebab dan latar belakang terjadinya migrasi, baik yang legal maupun yang illegal adalah tidak terlepas dari kondisi, tatanan, bahkan sistem nilai yang dianggap tidak memungkinkan berkembangnya potensi dan harapan manusia di tanah airnya. Berbagai tekanan dari masalah kependudukan, masalah ketimpangan dalam strategi atau tidak meratanya pembagian kesempatan dan hasil pembangunan sosial ekonomi, atau pun terjadinya berbagai konflik dengan alasan yang beraneka ragam, telah lama dipahami sebagai sumber pemicu berlangsungnya arus migrasi, terutama arus migrasi yang tidak sah.[5] Jadi, selama masih ada ketimpangan diantara Negara-negara didunia, maka proses migrasi akan terus berlangsung.

Terlebih lagi pada zaman yang semakin mengglobal, lintas batas suatu Negara sudah bukan lagi halangan yang berarti. Kemajuan dalam bidang ekonomi terutama di Negara-negara maju membutuhkan pekerja yang dapat menjalankan aktifitas produksi mereka. Sedangkan para penduduk dari Negara miskin dan berkembang membutuhkan pekerjaan untuk keberlangsungan hidup mereka. Maka terjadilah gelombang migrasi, dalam kasus ini migrasi pekerja, dari Negara miskin ataupun berkembang ke Negara maju.

REFERENSI

[1] Abdul haris dan nyoman Andika, gelombang migrasi dan konflik kepentingan regional: dari perbudakan ke perdagangan manusia. (Yogyakarta: LEFSEI, 2002) h. 7

[2] Artikel diambil dari http://www.iom.int/jahia/jahia/pid/2068 dan diakses pada tanggal14

[3] Informasi diambil dari www.unhcr.or.id dan diakses pada tanggal

[4] Natalis Pigay, migrasi tenaga kerja internasional: sejarah, fenomena, masalah dan solusinya. (Jakarta: pustaka sinar harapan, 2005) h. 120

[5] Natalis Pigay, migrasi tenaga kerja internasional: sejarah, fenomena, masalah dan solusinya. (Jakarta: pustaka sinar harapan, 2005) h. 120

 

Recent Posts

Leave a Comment