Organisasi Konferensi Islam (OKI)

Organisasi Konferensi Islam (OKI) merupakan organisasi yang anggotanya terdiri dari 57 negara dari seluruh dunia. OKI  mengklaim dirinya sebagai perwakilan masyarakat muslim dunia dalam kancah perpolitikan dunia internasional. Dalam beberapa dekade terakhir, hubungan antara dunia muslim dan dunia barat telah mengalami ketegangan, hal ini mengalami puncaknya saat dan setelah kejadian serangan 11 september 2001. Perang Amerik aSerikat melawan terorisme telah membuat dunia muslim berada pada posisi yang defensif.

ktt oki

KTT OKI yang Dilaksanakan di Jakarta Pada Maret 2016. sumber gambar: bbc.com)

Menurut kabar yang tersiar, terutama yang digaungkan oleh media barat, yang menyebutkan adanya hubungan antara terorisme dan islam telah menyebabkan kemarahan di kalangan muslim, dan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap Amerika Serikat. Implikasi dari ketidak percayaan ini menimbulkan implikasi di tingkat domestik. Salah satunya adalah Radikalisme Islam yang telah memperoleh perhatian dunia internasional secara luas dan menjadi tantangan bagi pemerintah domestik sebuah negara yang dipimpin oleh rezim islam.

Dalam beberapa tahun terakhir, OKI (Organisasi Konferensi Islam) telah menawarkan gambaran kepada pemerintah-pemerintah yang bermasalah tersebut bagaimana cara untuk mengarungi/ mengatasi tantangan ini.

Peran Organisasi Konferensi Islam

Oki mendasarkan klaim dirinya sebagai wadah legitimasi islam dan menyajikan dirinya sebagai organisasi yang bekerja untuk kepentingan umat islam secara transnasional. Namun organisasi ini tetap memperhatikan batas-batas kedaulatan sebuah negara. prinsip itu telah tertulis dalam piagam OKI dan telah menyediakan organisasi dengan kerangka kerja yang lebih restriktif daripada kepentingan dan persatuan muslim yang ideal.

Organisasi ini terdiri dari 57 negara muslim yang beragam, seperti indonesia dan maroko, serta sejumalh negara dengan jumlah minoritas muslim yang cukup besar seperti Rusia dan India. Tetapi, sejarah dari OKI serta perannya dalam kancah internasional  Tidak sejalan dengan klaimnya yang menyatakan bahwa organisasi ini merupakan organisasi yang mewakili kepentingan umat muslim dalam kancah internasional.

Sejarah OKI

OKI didirikan di maroko pada tahun 1969 dalam menanggapi respon serangan pembakaran terhadap Masid Al-aqsa di Yerussalem. Sejak Awal didirikan, OKI telah difokuskan pada sentimen anti Israel, dukungan untuk perjuangan Palestina, dan pengembangan persatuan di kalangan umat islam. pada awal mulanya sekali, OKI menghadapi tugas yang tidak mungkin untuk dilakukan, yaitu mendefinisikan dan merealisasikan persatuan muslim di dunia modern. karena umat islam berada pada negara-negara yang berdaulat dan tersebar diseluruh dunia. keragaman budaya, politik, dan ekonomi dunia muslim menimbulkan tantangan bagi kompabilitas politik.

Karena naggota OKI sangat beragam, maka tidak mengherankan bahwa OKI dimasa lalu telah dijadikan arena kompetisi antara dua negara dengan aspirasi kepemimpinan, yaitu negara Iran dan Arab saudi. Sementara Iran telah berusaha untuk mendorong revolusi islam telah menjadi isu yang sangat penting dalam dinamika internal OKI, faktor signifikan lain adalah kebulatan tekad arab saudi untuk melawan seruan gerakan pan-arabisme.

Tahun 1960-an adalah tahun-tahun kejayaan gerakan pan-arabisme, kekuatan gerakan ini dikonfirmasi oleh Nasser di Mesir. kekalahan telah dalam perang selama enam hari pada tahun 1967 telah memastikan bahwa gerakan pan-arabisme tealah mati. Rasa nasionalisme merupakan yang menjadi penghalang upaya kesatuan transnasional dalam dunia arab/muslim.

Kegagalan OKI Dalam Mencegah dan Menyelesaikan Konflik

Banyak kasus-kasus yang menunjukkan kegagalan dari organisasi ini, perang iran-irak pada tahun 1980-1988, invasi irak ke kuwait pada tahun 1990-1991 dan invasi yang dipimpin AS ke Irak tahun 2003. semua kasus-kasus itu mununjukkan ketidakmampuan organisasi untuk bertindak sebagai forum mediasi dan resolusi konflik, bahkan di negara-negara timur tengah sebagai pusat islam.

Konflik Israel-Palestina telah menjadi sumber utama agitasi dalam Dunia Muslim, dan rezim Saudi telah mencoba untuk mempertahankan keterlibatan erat dalam upaya resolusi. Arab saudi telah diikuti dua strategi utama, yaitu mendukung proses perdamaian, dan mendukung rakyat palestina, negara-negara arab, dan aktor-aktor negara yang terlibat dalam konflik.

Dalam hubungannya dengan perang Irak pada tahun 2003, OKI atau pemimpin negara-negara anggota OKI memikirkan untuk menggunakan embargo minyak untuk memperkuat oposisi mereka terhadap perang. pada pertemuan informal OKI di kuala lumpur pada Februari 2003, para peserta konferensi membahas potensi minyak sebagai aset strategis.

Hal ini mencerminkan iklim di internal negara-negara OKI seperti Arab Saudi, dimana pada tahun 2002 para intelektual menyuarakan pemutusan hubungan dengan Amerika serikat dan mengadakan embargo minyak untuk menciptakan perubahan dala kebijakan luar ngeri amerika serikat. namun, peran amerika sebagai pelindung negara-negara teluk melemahkan kemampuan OKI untuk mencapai kesepakatan konklusif pada strategi seperti ini.

OKI Dalam Kasus Israel Palestina

Dalam kaitannya dengan masalah palestina dan terorisme, opini publik muslim terus menyorot mengenai komitmen OKI dalam menangani masalah ini. Meskipun banyak kegagalan yang terjadi pada organisasi ini, tapi organisasi ini masih tetap membanggakan dirinya sebagai organisasi yang mewakili kepentingan dunia muslim. Mengingat banyaknya dukungan pada tingkat internasional untuk palestina untuk penentuan nasib sendiri, OKI telah memusatkan perhatiannya pada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan telah mendirikan kantor permanen di New York untuk memudahkan dalam melakukan lobi. (Selengkapnya Baca: Peran OKI Dalam Upaya Perdamaian Palestina)

Sementara untuk kasus Israel, OKI secara konsisten telah mengutuk perlakuan israel terhadap penduduk arab yang berada di bawah pendudukannya, dan juga di negara tetangga. Ada beberapa insiden yang terjadi yang memacu organisais OKI untuk menekankan anti israel. pengepungan terhadap yasir arafat, operasi militer di wilayah-wilayah yang diduduki, pembunuhan terhadap militan palestina, dan serangan israel ke Suriah telah mengingatkan dunia akan kerasnya Israel, dan Ancaramn Israel terhadap kepentingan Islam.

Related Posts

Leave a Comment